Okay, I have this long text in Indonesia, and I want you to make it into Instagram slides for my feed. Make it into several slides so that you could fit all of the quote in this text that I'm gonna send to you right now. I just want you to make the design simple. Just the point is so readers could read the quote that I text, that I, yeah, that I quote. The quote that I quote from this lengthy quote from a book. Di antara tanda-tanda al-firqah an-nājiyah (yakni kelompok yang selamat, yaitu satu-satunya kelompok yang Nabi ﷺ kabarkan akan selamat dari neraka dari 73 kelompok umat ini) adalah kesepakatan mereka dalam pokok-pokok agama dan masalah-masalah akidah. Abū al-Muẓaffar as-Sam‘ānī rahimahullah (wafat 489 H) seorang ulama besar Ahlus Sunnah wal Jama‘ah dari abad ke-5 Hijriyah, pakar dalam berbagai ilmu: tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, aqidah, dan bahasa Arab. Para ulama memuji beliau sebagai mufti Khurasan dan Syaikh Syafi‘iyyah di zamannya. Beliau rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Intiṣār li-Aṣḥābil-Ḥadīth: «Yang menambah jelas apa yang telah kami katakan adalah bahwa Nabi ﷺ, ketika ditanya tentang golongan yang selamat, bersabda, "Yaitu apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya." Maksudnya: siapa yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya. Maka harus mengetahui apa yang Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya berada di atasnya, dan tidak ada jalan untuk mengetahuinya kecuali melalui penukilan, sehingga wajib merujuk kepadanya... Nabi ﷺ juga bersabda, "Janganlah kalian memperebutkan suatu urusan dari ahlinya." Maka sebagaimana dalam mengetahui mazhab-mazhab para fuqaha yang menjadi panutan dalam umat ini orang merujuk kepada ahli fikih, dalam mengetahui bahasa merujuk kepada ahli bahasa, dan dalam mengetahui nahwu merujuk kepada ahli nahwu, demikian pula wajib merujuk kepada ahli penukilan dan riwayat dalam mengetahui apa yang Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya berada di atasnya. Sebab merekalah yang memberi perhatian pada urusan ini, menyibukkan diri dengan menghafalnya, menelitinya, dan menukilnya. Seandainya bukan karena mereka, niscaya ilmu Nabi ﷺ lenyap dan tak seorang pun mengetahui sunnah dan jalan beliau... Jika ada yang berkata, "Ahli fikih sepakat atas pendapat para fuqaha dan jalan masing-masing mereka dalam masalah furu'. Ahli nahwu sepakat atas jalan Bashrah dan Kufah dalam nahwu. Demikian pula ahli kalam sepakat atas jalan masing-masing tokoh dari generasi terdahulu dan salaf mereka. Adapun yang kembali kepada akidah, kaum muslimin tidak bersepakat atas apa yang Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya berada di atasnya. Bahkan setiap golongan mengklaim agama itu sebagai miliknya dan menisbatkan diri kepada millah-nya, seraya berkata, 'Kamilah yang berpegang teguh pada millah Rasulullah ﷺ dan mengikuti jalannya, dan siapa yang berada di atas selain apa yang kami berada di atasnya maka ia ahli bid'ah dan pengikut hawa nafsu.' Maka tidak boleh menganalogikan perkara yang kita perselisihkan ini denga